Saya pernah membaca, bahwa seandainya kita tidak rakus dan selalu merasa kekurangan, maka bumi yang diciptakan Allah taala ini mampu untuk memenuhi kebutuhan kita.
Namun sebagai mahkluk yang bernafsu, manusia mempunyai kebutuhan yang sangat banyak, sementara kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat-lah terbatas.
Krisis ekonomi seperti saat ini tidak akan kita rasakan apabila kita tidak banyak kemauan.
Kemauan itu adalah nafsu. Ketika seorang bayi lahir dari perut ibu-nya, si-bayi sudah bernafsu. Tetapi si-bayi akan punya akal untuk membedakan yang halal dengan yang haram 15 tahun kemudian. Ini arti-nya nafsu lebih tua dari akal.
Makanya nafsu itu aneh, senantiasa memandang milik orang lain itu yang bagus. Rumput tetangga itu lebih segar, padahal terkadang rumput tetangga yang nampak segar itu palsu, rumput plastik.
Suka berbelanja
keluar rumah, keluar kampung, keluar daerah bahkan keluar negri.
Berbelanja ini-lah penyebab segala-nya.
Jadi bagaimana ?
Jangan berbelanja, gunakan yang lama jika masih bisa dipakai. Atau kalau bisa, produksi sendiri. Bikin sebagus -bagus-nya kemudian jual.
Kalau terpaksa juga untuk membeli, jangan membeli atau belanja keluar negri. Cintailah produksi dalam negri. Belanja-lah kewarung-warung family atau warung warung yang ada di kampung kita. Mudah mudahan rupiah tidak pergi jauh dari kita. Semoga bermanfaat terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar